---------------------------- Original Message ----------------------------
Subject: [Asasi] provokasi Prof. Ng Aik Kwang
From: "bekti istiyanto"
Date: Tue, February 22, 2011 7:45 am
--------------------------------------------------------------------------
Provokasi Prof. Ng Aik Kwang
Lumayan provokatif dan mengeneralisir tapi layak juga direnungkan
Mengapa bangsa Asia kalah kreatif dari bangsa Barat?
Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland, dalam bukunya "Why
Asians Are
Less Creative Than Westerners" (2001) yang dianggap kontroversial tapi
ternyata
menjadi "best seller". (www.idearesort.com/trainers) mengemukakan beberapa
hal
ttg bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata dan pikiran banyak orang:
1. Bagi kebanyakan org Asia, dlm budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup
adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain).
Passion (rasa cinta thdp sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang
kreatifitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang
dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang utk memiliki kekayaan banyak.
2. Bagi org Asia, banyaknya kekayaan yg dimiliki lbh dihargai drpd CARA
memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai
ceritera, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi kaya
mendadak
karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran
dan
sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir/
diterima sbg
sesuatu yg wajar.
3. Bagi org Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis "kunci jawaban"
bukan pada pengertian. Ujian Nasional, tes masuk PT dll semua berbasis
hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus2 Imu pasti
dan ilmu hitung lainnya bukan diarahkan utk memahami kapan dan bagaimana
menggunakan rumus rumus tersebut.
4. Karena berbasis hafalan, murid2 di sekolah di Asia dijejali sebanyak
mungkin
pelajaran. Mereka dididik menjadi "Jack of all trades, but master of none"
(tahu sedikit sedikit ttg banyak hal tapi tidak menguasai apapun).
5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia bisa jadi juara dlm
Olympiade
Fisika, dan Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada org Asia yang menang
Nobel
atau hadiah internasional lainnya yg berbasis inovasi dan kreativitas.
6. Orang Asia takut salah (KIASI) dan takut kalah (KIASU). Akibat- nya sifat
eksploratif sbg upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil
resiko kurang dihargai.
7. Bagi keanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa
penasaran
tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah
8. Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam
seminar
atau workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi stlh sesi berakhir peserta
mengerumuni guru / narasumber utk minta penjelasan tambahan.
Dlm bukunya Prof.Ng Aik Kwang menawarkan bbrp solusi sbb:
1. Hargai proses. Hargailah org krn pengabdiannya bukan karena kekayaannya.
2. Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban. Biarkan murid memahami bidang
yang paling disukainya
3. Jangan jejali murid dgn banyak hafalan, apalagi matematika. Untuk apa
diciptakan kalkulator kalau jawaban utk X x Y harus dihapalkan? Biarkan
murid
memilih sedikit mata pelajaran tapi benar2 dikuasainya
4. Biarkan anak memilih profesi berdasarkan PASSION (rasa cinta) nya pada
bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yg lebih
cepat menghasilkan uang
5. Dasar kreativitas adlh rasa penasaran berani ambil resiko. AYO BERTANYA!
6. Guru adlh fasilitator, bukan dewa yang harus tahu segalanya. Mari akui
dgn
bangga kl KT TDK TAU!
7. Passion manusia adalah anugerah Tuhan..sebagai orang tua kita
bertanggung-jawab untuk mengarahkan anak kita untuk menemukan passionnya dan
mensupportnya.
Mudah2an dengan begitu, kita bisa memiliki anak-anak dan cucu yang kreatif,
inovatif tapi juga memiliki integritas dan idealisme tinggi tanpa korupsi
salam
Subject: [Asasi] provokasi Prof. Ng Aik Kwang
From: "bekti istiyanto"
Date: Tue, February 22, 2011 7:45 am
--------------------------------------------------------------------------
Provokasi Prof. Ng Aik Kwang
Lumayan provokatif dan mengeneralisir tapi layak juga direnungkan
Mengapa bangsa Asia kalah kreatif dari bangsa Barat?
Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland, dalam bukunya "Why
Asians Are
Less Creative Than Westerners" (2001) yang dianggap kontroversial tapi
ternyata
menjadi "best seller". (www.idearesort.com/trainers) mengemukakan beberapa
hal
ttg bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata dan pikiran banyak orang:
1. Bagi kebanyakan org Asia, dlm budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup
adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain).
Passion (rasa cinta thdp sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang
kreatifitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang
dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang utk memiliki kekayaan banyak.
2. Bagi org Asia, banyaknya kekayaan yg dimiliki lbh dihargai drpd CARA
memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai
ceritera, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi kaya
mendadak
karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran
dan
sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir/
diterima sbg
sesuatu yg wajar.
3. Bagi org Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis "kunci jawaban"
bukan pada pengertian. Ujian Nasional, tes masuk PT dll semua berbasis
hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus2 Imu pasti
dan ilmu hitung lainnya bukan diarahkan utk memahami kapan dan bagaimana
menggunakan rumus rumus tersebut.
4. Karena berbasis hafalan, murid2 di sekolah di Asia dijejali sebanyak
mungkin
pelajaran. Mereka dididik menjadi "Jack of all trades, but master of none"
(tahu sedikit sedikit ttg banyak hal tapi tidak menguasai apapun).
5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia bisa jadi juara dlm
Olympiade
Fisika, dan Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada org Asia yang menang
Nobel
atau hadiah internasional lainnya yg berbasis inovasi dan kreativitas.
6. Orang Asia takut salah (KIASI) dan takut kalah (KIASU). Akibat- nya sifat
eksploratif sbg upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil
resiko kurang dihargai.
7. Bagi keanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa
penasaran
tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah
8. Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam
seminar
atau workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi stlh sesi berakhir peserta
mengerumuni guru / narasumber utk minta penjelasan tambahan.
Dlm bukunya Prof.Ng Aik Kwang menawarkan bbrp solusi sbb:
1. Hargai proses. Hargailah org krn pengabdiannya bukan karena kekayaannya.
2. Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban. Biarkan murid memahami bidang
yang paling disukainya
3. Jangan jejali murid dgn banyak hafalan, apalagi matematika. Untuk apa
diciptakan kalkulator kalau jawaban utk X x Y harus dihapalkan? Biarkan
murid
memilih sedikit mata pelajaran tapi benar2 dikuasainya
4. Biarkan anak memilih profesi berdasarkan PASSION (rasa cinta) nya pada
bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yg lebih
cepat menghasilkan uang
5. Dasar kreativitas adlh rasa penasaran berani ambil resiko. AYO BERTANYA!
6. Guru adlh fasilitator, bukan dewa yang harus tahu segalanya. Mari akui
dgn
bangga kl KT TDK TAU!
7. Passion manusia adalah anugerah Tuhan..sebagai orang tua kita
bertanggung-jawab untuk mengarahkan anak kita untuk menemukan passionnya dan
mensupportnya.
Mudah2an dengan begitu, kita bisa memiliki anak-anak dan cucu yang kreatif,
inovatif tapi juga memiliki integritas dan idealisme tinggi tanpa korupsi
salam
Pesan diatas, menjadi sebuah renungan tersendiri untuk kita...
Dalam hidup selalu ada pilihan...
Menjadi kreatif atau "diktator"(orang yang selalu menghafal diktat), menjadi orang yang idealis atau orang yang tidak mampu bersuara karena ditelan lingkungan... menjadi buruk atau baik...
intinya, semua itu akan dikembalikan kepada kita... karena itu adalah proses pendewasaan kita... proses kita untuk menjadi manusia yang sebenarnya... manusia yang mampu menilai, menghargai, memilih, menghadapi konsekuensi, dan mensyukuri....
semangat.... jangan menyerah.... siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan kesuksesan, siapa yang bersabar akan beruntung...(kutipan Kalimat Novel Negeri 5 Menara)
